Tanya jawab

Berikut ini beberapa tanya jawab yang saya lakukan dalam rangka mengisi formulir pendaftaran kursus gender dan seksualitas.

Mengapa Anda adalah kandidat yang tepat untuk mengikuti Kursus Gender dan Seksualitas ini?

Beberapa tahun yang lalu saya menemukan hetero-seksualitas saya. Prosesnya panjang dan saya melakukannya dengan bantuan search engine di internet karena lingkungan (kampus & keluarga) saya tidak nyaman untuk membicarakan seksualitas secara terbuka. Dua bulan lalu saya menikah dan selama pacaran, saya mulai membuka diskusi mengenai seks dengan pasangan. Setelah menikah, saya merasa relatif lebih bebas bicara tentang seks tetapi itupun dalam konteks pernikahan, sementara seksualitas tidak sebatas pernikahan, orgasme, penetrasi, dll. Saya ingin memahami lebih jauh tentang seksualitas yang dapat saya refleksikan melalui tulisan di blog pribadi, blog alumni kajian wanita UI, website berbasis komunitas, milis dan media lain. Dengan pengalaman dan pemahaman awal serta sebagai blogger, saya merasa orang yang tepat untuk mengikuti kursus ini.

2. Menurut pemahaman Anda, apa yang dimaksudkan dengan Gender dan Seksualitas?

Gender adalah bahan dasar pembentuk stereotipe, lahir dari pembedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Seksualitas adalah bagian penting dari identitas seseorang yang menentukan perilaku dan kepuasan seksual. Sama dengan gender, seksualitas dibentuk oleh seperangkat nilai sosial dan berubah menurut tempat dan waktu.

3. Menurut yang anda ketahui, bagaimanakah Anda melihat kondisi Gender dan Seksualitas di Indonesia?

Sebagian besar masyarakat masih melihat seksualitas sebagai perkara privat tapi secara tidak langsung melalui UU anti-pornografi yang ada, seksualitas menjadi isu politis dan publik. Gender dan seksualitas dianggap tunggal, kaku, dan mati (tidak dapat berubah). Seksualitas dipahami sebatas selangkangan dan daerah itu dianggap suci, sakral, perlu dilindungi, ditutupi, dikontrol, dan dikuasai. Kenikmatan, kedekatan, kehangatan yang dapat berkembang dari seksualitas seseorang menjadi kurang penting. Sebagai perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual, saya dibuat merasa tidak nyaman dengan seksualitas saya sendiri, terutama karena anggapan kepuasan seks saya tergantung pada keberhasilan saya memuaskan laki-laki.

4. Berhubungan dengan pekerjaan Anda, bagaimana anda melihat diri Anda berkembang di 3 s/d 5 tahun kedepan, dalam kaitannya dengan permasalahan Gender dan Seksualitas?

Saya ingin mengembangkan biblioterapi terhadap komunitas korban pelecehan seksual. Saya ingin membuat kajian dan membangun pusat rujukan biblioterapi. Biblioterapi adalah upaya penyembuhan/pemulihan melalui bantuan koleksi perpustakaan. Media tidak hanya buku tetapi juga video, atau film. Menulis menjadi kelanjutan dari terapi ini.

5. Apa harapan Anda dalam mengikuti Kursus Gender dan Seksualitas ini?

Harapan saya dapat berbagi pengalaman, berbagi dan mendapatkan informasi mengenai beberapa rujukan akademis dan non-akademis kepada peserta, serta mengetahui beberapa kegiatan praktis yang sebenarnya dapat saya lakukan di komunitas saya yaitu aktivis feminis, pustakawan, praktisi teknologi informasi, aktivis open source. Saya rasa sebagian aktivis perempuan juga masih menjaga jarak dengan isu seksualitas, paling tidak pada level pribadi.

6. Apakah ada area di dalam pekerjaan Anda yang ingin Anda kembangkan, Khususnya yang berkaitan dengan permasalahan Gender dan Seksualitas. Jelaskan?

Area pekerjaan saya ada dua dan saling berhubungan. Pertama, profesi saya sebagai pustakawan tetapi lebih banyak bekerja di LSM penguatan perempuan dan kedua, saya bekerja di pemanfaatan dan pengembangan media. Saya ingin berkontribusi pada pengembangan media bagi kelompok dengan orientasi seksual yang berbeda sambil mengenalkan perspektif gender. Perspektif gender juga perlu diperkaya dengan pengalaman komunitas yang lain.

7. Apa motivasi Anda terlibat pekerja di bidang Gender dan Seksualitas?

Motivasi saya adalah pengalaman pribadi yang pernah dilecehkan oleh kawan laki-laki. Masih banyak anak-anak dan remaja laki-laki dan perempuan yang belum berani bersuara mengenai pengalaman seksualitas mereka. Jika pun bersuara, kemungkinan justru membuat mereka tidak nyaman dengan seksualitas mereka sendiri.