“Adab” kepustakawanan

Tulisan ini sebagai respon dari pernyataan dan pertanyaan Byu, seorang otodidak di bidang kepustakawanan.

Saya tertarik dengan posting dan pertanyaan anda. Pemaknaan saya terhadap perpustakaan sebagai berikut.

Saya mempunyai gambaran fisik perpustakaan sebagai sebuah gedung, sebuah tempat permanen; lengkap dengan ubin dan dinding yang diplester atau dicat. Para pengunjung adalah mereka yang memakai alas kaki dan berpakaian “sopan”. Di dalam perpustakaan itu ada berbagai koleksi buku yang bisa disusun di rak atau dipajang menurut klasifikasi subjek. Dalam perpustakaan, ada petugas yang mengelola dan menjaga koleksi serta melayani pengunjung.

Gambaran fisik itu terbangun dari latar belakang saya yang lahir dan besar di Jakarta dan menjalani pendidikan formal di institusi pendidikan “modern”. Dalam perkembangannya, saya mengkritisi gambaran tadi tapi secara bawah sadar seperti itulah yang saya rasakan.

Waktu kuliah di UI, sempat ada aturan mahasiswa yang memakai sandal jepit tidak boleh masuk kelas atau masuk perpustakaan. Saya jadi berpikir, apakah institusi pendidikan termasuk perpustakaan dibuat khusus bagi mereka yang terbiasa memakai sepatu? Kalau memang seperti itu berarti perpustakaan sebagai ruang publik menjadi “tidak begitu publik”. Saya berusaha positif dan meyakinkan diri bahwa aturan ini berlaku khusus di arena akademik modern yang anggotanya adalah manusia terpelajar dan modern. Namun, ada kegelisahan bahwa nilai kepantasan seseorang berada di institusi pendidikan termasuk perpustakaan dilihat dari pemakaian sepatu sebagai suatu simbol peradaban. Seakan mengukuhkan bahwa perpustakaan adalah simbol peradaban lebih maju yang dapat diakses oleh mereka yang juga menggunakan atribut beradab.

Saya jadi ingat pengalaman waktu SD dan SMP. Saya bersekolah di Cilangkap, daerah pinggiran Jakarta Timur yang sebagian penduduknya etnis Betawi atau Banten. Kalau musim hujan, teman-teman saya akan memakai kantong plastik hitam sebagai alas kaki dan membawa sepatu di tas mereka. Kalau sampai di sekolah, mereka ganti dengan sepatu. Ketika pulang, ganti lagi ke kantong plastik. Saya tidak melakukannya karena perumahan (asrama POLRI) tempat saya tinggal sudah diaspal lagipula orang tua mampu membelikan saya sepatu bot.

Ya, itu hanya sebuah kasus yang sempat meneguhkan gambaran perpustakaan dalam diri saya sekaligus menggoyahkannya. Semoga bisa memicu diskusi lebih lanjut. Terima kasih.

Jakarta, Desember 2009