Pengendara mabuk yang menabrak orang sampai mati bisa jadi bukan sesuatu yang langka. Minggu lalu peristiwa tersebut terjadi di sekitar Tugu Tani dan korban mati sampai 9 orang anak-anak dan remaja. Masyarakat sepertinya marah pada pengemudi dan penumpang yang ada dalam mobil, terutama ketika mengetahui bahwa pengemudi mobil, seorang perempuan muda berkerudung diketahui baru saja memakai narkoba. Saya tidak tahu persis jenis narkoba yang digunakan.
Beberapa orang di internet dan keluarga saya berkomentar bagaimana pengemudi tersebut tidak pantas memakai kerudung dan mengutuknya. Pengemudi itu masih muda, usianya 20 tahunan. Jika dilihat dari sisi lain dia juga seorang korban, tapi dia secara sadar mengambil keputusan yang merugikan itu. Namun, itu baru asumsi saya karena setahu saya pengedar narkoba bukan orang bodoh yang tidak memahami pasarnya. Perempuan ini adalah salah satu klien potensial, terlepas dari kerudungnya, agamanya, sukunya, dll. Ada uang, ada barang.
Sebagian menilai perempuan muda ini jauh dari kesan cantik. Tubuhnya gemuk dan berkulit sawo matang. The world is cruel to those who can’t lift up the beauty standard. Mungkin dia pernah dilecehkan karena penampilan fisiknya. Mungkin dia sendiri membenci tubuh dan wajahnya. What is the best way to escape your damned body? Drugs.
Kawan-kawannya dalam satu mobil kabarnya juga memakai narkoba. Namun entah kenapa dan bagaimana, dia ditempatkan di kursi pengemudi. Perempuan muda ini mungkin tidak merasa mabuk dan tidak berpikir panjang mengenai konsekuensi tindakannya.
Kerudungnya terus dipermasalahkan karena ingatan manusia memang sangat terbatas sehingga mereka perlu simbol-simbol untuk mengingat-ingat eksistensi mereka. Bagaimana dengan pengedar narkoba yang dia temui sebelum tabrakan maut terjadi? Mereka dan kita tahu bahwa pengedar sangat mungkin lebih kuat dari gadis muda ini. This unattractive and naïve young woman is so easy to blame and cursed. Very, very easy. It is much easier to munch this one than investigate and arrest the dealer and his/her gangs.
For me, it is a matter of days before we hear the same thing happen. More young people only aware about the evil things about drugs. Not knowing about and not anticipate the sudden euforia effect, the out of body experience, the dizzy, the hungry, the thrilled and rush of excitement. To educate means to be honest about it. The youth are not afraid of evil. They are afraid if they can’t fit in-to their bodies, to social expectation, to mainstream sexuality, to gender role, etc.
Who are the evil?
Malang, 25 Januari 2012