Google dan padamnya letupan gunung api

Beberapa bulan lalu saya membaca mengenai layanan Google yang semakin terintegrasi dengan berbagai pembaruan. Melalui layanan gratisan tersebut, terjadi konsentrasi pemakai sehingga kecenderungannya pemakai menyimpan email, foto, kalendar, dokumen, dan mencari informasi melalui Google. Dengan daya tarik layanan gratis dan terintegrasi serta sering diperbarui, maka makin banyak pemakai Google. Saat itu sebagian orang mulai gelisah karena hal itu bisa berkembang menjadi sesuatu yang tidak baik dan dapat memunculkan semacam monopoli dan manipulasi yang tidak disadari. Belum lagi akan muncul ketergantungan dari pemakai terhadap layanan Google. Dari pengalaman dan teori ekonomi modern, diversifikasi tabungan dan investasi penting dilakukan. Tidak ada satupun investasi atau tempat menyimpan yang tidak memiliki risiko 100% atau dengan kata lain aman 100%. untuk meminimalisasi risiko, dilakukanlah diversifikasi.

Jika menyimpan seluruh harta dan aset dalam satu tempat dinilai kurang bijak, begitu juga dengan menyimpan seluruh data kita dalam satu layanan. Namun, di tengah dorongan bahkan tuntutan untuk menyediakan layanan yang terintegrasi, sulit untuk mengambil langkah yang berbeda. Dan para visioner bidang teknologi komunikasi sepertinya juga sudah membayangkan kekuatan dorongan sebuah komunitas. Jadi jika kawan-kawan saya punya akun yahoo, maka saya juga ikut merasa perlu memiliki akun yahoo agar dapat berkomunikasi dengan kawan-kawan saya. Begitu juga dengan komunitas aplikasi lain.

Bukan itu saja. Kadang, aplikasi dan layanan yang diberikan memang sangat bagus dan sesuai dengan keinginan kita. So we can’t help ourselves for not trying and using it. Perusahaan penyedia layanan informasi jelas merekrut orang-orang terbaik untuk itu dan mereka mendapatkan imbalannya.

Dalam pertemuan dengan seorang kawan di Jogja, dia menceritakan bahwa sudah ada kecenderungan untuk memanfaatkan informasi yang mungkin bagi individu dianggap sepele. Misalnya informasi mengenai perjalanan yang ingin saya lakukan, kapan dan menggunakan moda transportasi apa. Jika informasi itu diketahui oleh seseorang atau suatu institusi yang sangat peka, maka informasi itu menjadi sesuatu yang sangat berharga. If I think about it, it may worth more than mining gold for years. No wonder datamining become another major that grows very fast.

Ketika saya memilih dan bercita-cita menjadi pustakawan, saya berpikir bahwa pekerjaan itu merupakan profesi paling menggairahkan. Jurusan ekonomi atau manajemen informatika kurang menarik dan tidak punya tantangan. Pustakawan. Bukan profesi yang paling hebat atau paling keren, tapi paling menggairahkan, exciting, rousing, igniting, provoking. Kenapa? Karena perasaan itulah yang paling saya ingat ketika saya naik ke dalam mobil van perpustakaan keliling pada saat saya berusia 7 atau 8 tahun. And it’s the best rush of feeling I ever experienced.

Saya tentu belum berpikir sampai dengan datamining atau menghasilkan keuntungan dengan menjual data yang telah diolah. Namun dengan cara yang aneh, teks-teks yang diam itu seakan mengatakan, “Kamu tidak tahu apapun tentang saya. Kamu harus membaca saya.” Saya tidak pernah merasa begitu bahagia karena tidak tahu apa-apa. Saya tidak merasa bodoh. Saya merasa bahagia yang membuncah seperti letupan gunung api.

Jadi bermuladari rasa bahagia yang mungkin sekarang dianggap sangat lugu, lalu sepertinya dunia akademik justru memadamkan letupan yang sedemikian besar. Orang dewasa berpikir dengan cara yang sangat tidak menarik. Saya lalu belajar dan beradaptasi melakukan hal yang sama untuk dianggap dewasa. Sangat menyedihkan.

Fenomena jejaring sosial dan integrated services dan aplikasi komunikasi lain yang berkembang sangat cepat tentu dimungkinkan karena orang dewasa. Juga terdorong untuk mencari keuntungan yang besar, dengan biaya atau tenaga yang sederhana. Kalau dulu ada revolusi industri, sekarang revolusi komunikasi, entah apalagi di depan. Namun saya termasuk orang yang selalu penasaran dengan email yang masuk, mencari di search engine, dan membaca buku. Ya, membaca buku sekarang bukan lagi prioritas. I think I’m looking for the same rush of feeling.

Data and information is for sale. The data analysis is for sale. A librarian is kind of dataminer but it’s not for sale. It’s for barter just like in barter system. We exchange goods not just information.

So here I am, sitting in front of my computer, with Google search engine on the screen. Saya yakin ada banyak informasi lain yang tidak terjaring dalam Google. However, it is the best one that I can get so far. Saya harus mulai memperluas horison saya. Penglihatan saya semakin dewasa semakin mengecil. That’s insane!

Malang, 30 Desember 2011

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s