Pantat Besar


Jakarta, 20 Juni 2004

Lima menit aku mematut diri di depan cermin. Aku berdiri menyamping lalu membelakangi cermin lalu menyamping lagi. Setelah itu berjalan sambil membelakangi cermin dan melihat terus ke belakang. Akhirnya aku pegang-pegang pantatku.

Sejak duduk di bangku SMP aku sudah tahu bahwa pantatku memang besar. Tidak terlalu besar tapi besar saja. Badanku biasa, tinggi sekitar 155 cm, berat 46 kg. Tidak terlalu berat bahkan cukup ideal. Tetapi sering orang mengatakan bahwa lemak tubuhnya terfokus di pipi atau paha, maka untuk kasusku fokusnya ada di pantat.

Akhir-akhir ini, sesuatu yang dulu aku anggap kelebihan menjadi beban pikiran. Kadang ketika aku lewat di sebuah gang ada saja cowok iseng suka menggoda atau yang menjengkelkan melihat ke arah pantatku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Padahal bajuku sopan dan tertutup. Kalau dibilang masih memperlihatkan lekuk tubuh sebenarnya itu karena pantatku yang besar. Beli rok yang ada di pasar belum tentu menyembunyikan pantatku. Karena ukuran pinggangku kecil tapi ukuran pinggul jauh lebih besar. Rok yang dipakai orang belum tentu pas untukku.

“Masih untung punya pantat. Dikasih bagus lagi. Sekarang minta macem-macem!” itu omelan Fira, sahabatku.
“Enggak liat punyanya Sofi? Rata. Jelek.”
“Besar juga jelek, Fi.” Aku ngotot.

“Segitu nggak besar. Kalo ada cowok kurang ajar, memang cowoknya aja yang pikirannya ngeres. Memangnya elu nggak pernah lihat cowok berpantat besar? Lalu elu godain tuh cowok nggak?”
“Ya, enggak.”
“Kenapa enggak?”
“Elu nantangin gua?”
“Gua tanya kenapa elu enggak godain tuh cowok atau melototin pantatnya yang gede?”
“Soalnya,” aku berpikir beberapa detik, “Nggak ada gunanya godain cowok itu. Gua juga nggak kenal.”
“Nah, elu bukan tipe orang iseng. Dan nggak semua cowok yang lihat pantat elu otomatis godain elu kan? Tergantung cowoknya beres atau enggak.”

“Tapi cukup sering, Fi. Dan lu tau pengalaman yang paling bikin bete?”
“Apa?”
“Waktu itu gua masih kuliah dan magang di LSM. Pas pulang naik patas gua berdiri dan rame banget karena waktu pulang kantor. Di dekat gua berdiri ada cowok dan gua nggak tau setan apa yang lewat di kepala dia, tau-tau pantat gua dipegang.”
“Hah? Kurang ajar! Dan elu nggak labrak tuh cowok?”
“Gua cuma berani melototin dia sama ngomong: jangan kurang ajar ya!”
“Kok ada sih makhluk kayak gitu dilahirkan? Memangnya dia nggak punya pantat? Jadi elu malah menyalahkan diri sendiri?”
“Enggak, karena gua merasa nggak bersalah. Pakaian gua sopan, nggak macem-macem kok dia masih aja iseng.”
“Nah itu dia! Bukan salah cewek dong.”

“Tapi gua merasa, pantat gua ini memang besar. Kalo agak ketat dikit pasti body gua kelihatan.”
“Jadi elu nyalahin ciptaan Tuhan?”
“Bukan gitu,” aku menggoyangkan tanganku dengan gemas. “Tapi gua pikir mungkin sebaiknya gua pakai baju yang longgar atau rok yang besar biar pantat gua nggak kelihatan menonjol.”
“Dimana-mana pantat itu pasti menonjol! Elu lulusan UI tapi bego!”

Aku memandang jengkel ke arah Fira.
“Kenapa sih dipermasalahkan? Cowok itu memang ada jenis yang aneh dan itu bukan berarti justru elu yang harus berubah. Sekalian aja sedot lemak? Punya uang nggak?”
“Tapi kalo cuma beli baju yang agak longgar kan nggak masalah.”

“Beli baju itu nggak masalah. Tapi alasan elu beli baju itu yang salah. Elu itu udah pake jilbab, baju lu biar nggak sampe nyeret tanah tapi masih ketutup. Beda ‘kan sama penyanyi dangdut yang bajunya cuma setengah di atas dan setengah di bawah? Lalu sekarang lu mau beli baju dan rok yang lebih longgar lagi biar tonjolan di belakang itu nggak kelihatan. Alasannya ada cowok yang tidak terdidik yang suka godain elu. Nah, kalo nanti ada cowok yang lebih gila yang suka godain elu gara-gara baju lu warnanya merah, lu ganti juga semua baju lu jadi hitam?”

“Analoginya nggak bisa disamain.” Aku memukul bantal kursi di pangkuan.
“Tidak seratus persen sama tapi hampir sama. Sebentar, gua panggil….siapa ya?”
Fira melongokkan mukanya keluar pintu ruangan.
“Gun! Sini deh, Gun!” ajak Fira pada teman sekantornya. Aku duduk tegak, tidak tahu apa yang dipikirkan Fira.

“Gun, elu berdua teman satu kampus ‘kan?” tanya Fira sambil menunjuk aku dan Gunawan.
Pertanyaannya dijawab dengan anggukan Gunawan.
“Nah, kalo lihat dia, apa yang paling lu perhatikan? Wajahnya, bajunya, atau omongannya?”

Gunawan bingung. Aku malu.
“Ini tebakan ya?” tanyanya dengan cengar-cengir.
“Ini serius.”
“Oke deh, gua ikut aja. Yang sering gua perhatiin ya wajahnya. Lalu obrolan dia.”
“Nggak ada lagi yang diperhatiin? Kalo dari belakang?”
“Dari belakang?” Gunawan mengernyitkan dahi. Aku menutup wajahku.

“Ya, seperti punggungnya, kepalanya, pantatnya mungkin?”
“Ih, kalian lagi ngomong apa sih? Ngapain gua ngeliatin pantatnya Keke?”
“Kenapa enggak?” Fira masih mencecar Gunawan.
“Ya, enggak aja. Dimana-mana pantat orang kan sama. Lagi nga…”
“Oke. Makasih ya, Gun. Makan lagi deh. Besok gua traktir.” Sahut Fira sambil menutup pintu ruangannya dengan paksa di depan Gunawan yang masih menganga.
“Nah, orang macem Gunawan aja males lihat pantat lu, Ke.”

Aku geleng-geleng kepala. Sahabatku satu ini memang unik.
“Sebenarnya kalo gua nggak gemuk pantat gua nggak begitu besar.”
“Jadi?”
“Mungkin gua harus menurunkan berat badan, Fi.”
“Ini lagi.” Fira meraih gelas dan meminum air putih di dalamnya.
“Elu mau diet untuk mengecilkan pantat?”
“Dietnya masih makan tiga kali sehari ditambah olahraga. Gua juga tau diri.”
“Elu ‘kan punya darah rendah, Ke. Gimana mau diet? Dunia ini sudah nggak masuk akal.”
Aku bersendekap dan cemberut.

“Beneran deh, Ke!” nada bicara Fira menjadi lebih lembut. “Di dalam diri elu itu tidak ada unsur yang semacam sex appeal. Jadi nggak usah dikurusin itu badan. Minggu lalu gua ajak belanja ke Mangga Dua empat jam aja elu mau pingsan. Ini pake diet lagi.”
Aku masih cemberut.

“Elu juga pernah diet biar Reza naksir. Belum lagi dana kosmetik lu yang ratusan ribu per bulan. Itu sama aja.”
Ucapanku rupanya mengenai tepat ke perasaannya. Sejenak dia berhenti makan.
“Gua pake lipstik aja kalo ada hajatan, pake pelembab yang murah, baju yang diobral di Blok M. Sementara elu kebalikan gua. Facial sebulan sekali, luluran segala macam. Alasannya juga nggak beda dari gua. Cowok ‘kan?”

Fira tercenung.
“Kayaknya enggak deh. Gua cuma pingin kelihatan fresh, cantik dan ujung-ujungnya ke PD.”
“Kelihatan cantik untuk siapa?”
“Untuk orang yang lihat gua; cowok, cewek, anak kecil, tukang asongan, siapa aja. Kenapa lalu dihubungkan sama cowok aja? Cewek kalo cantik dan fresh, jangankan cowok, cewek pun akan sirik. Cewek ideal itu kan seharusnya nggak dilihat dari sudut pandang cowok.”
Kali ini aku yang terdiam. Mungkin karena pengalaman Fira yang lebih banyak dalam berhubungan dengan cowok yang membuatnya memiliki pendapat lebih tajam dari aku.
“Kita terusin nanti aja.” aku beranjak dari sofa.

“Jadi gimana?”
“Apanya?”
“Beli baju baru atau diet?”
“Masih harus dipikir lagi.” Jawabku sekenanya.
“Pikir yang bener. Pokoknya ini untuk kamu, nggak usah mikirin cowok iseng. Kalau bisa alternatif lain perlu dipikirkan.”
“Yang mana?”
“Cari suami, biar nggak ada yang berani kurang ajar sama elu.”
“Elu pikir gua nggak bisa menyelesaikan masalah kayak gini sendirian sampe perlu cari suami segala?”
“Wuih, cewek abad 21 seharusnya punya semangat kayak gitu dong!”

Aku meninggalkan kantornya.
– – – – – – – – -

Seminggu kemudian aku dan Fira membuat janji bertemu di sebuah kafe. Kami duduk di meja bagian pojok yang terlindung dari pandangan umum. Saat itu, aku memakai baju dua potong berwarna merah. Bagian bawahnya model sepan panjang.

“Jadi ini solusinya?” tanyanya.
“Ini bukan solusi. Ini baju.” Sahutku galak.
“Nggak ada cowok yang godain?”
“Cowok iseng pasti ada.”
“Nggak pake diet?”
“Gua ikut senam.”
“Salut. Tapi pantat lu masih ada kan?”
“Tambah bagus dari yang kemaren.”

“Wah, tambah salut gua! Dan nggak takut cowok malah makin iseng lihat pantat lu?”
“Gua lebih takut nggak punya pantat daripada takut digodain cowok. Tapi rasa takut masih ada. Bukannya gua takut mendamprat cowok iseng tapi takut dianggap senewen. Soalnya orang di sekitar gua mungkin nggak peduli hal seperti itu.”

“Siapa bilang? Banyak kok yang peduli dan elu memang punya hak untuk protes. Kenapa sih kalo cewek protes dibilang cerewet sementara kalo cowok justru dibilang vokal dan berani. Udah basi stereotipe kayak gitu.”
“Setuju. Dan elu nggak lihat ada perubahan lain?”
“Apa ya? Kayaknya elu makin ….gimana gitu.”

“Yang eksplisit dong.”
“Yang pasti ada merah-merah di bibir, kulit makin mulus, lebih fresh. Pake susuk ya?”
“Pake kosmetik dikit.”
“Merasa tersaing ya sama gua? Gua percaya lho kalo cewek itu adalah serigala bagi cewek yang lain.”
“Jadi kita sebenarnya serigala berbulu domba dong!”
Mereka tertawa.

“Tapi cowok juga sering berantem buat mendapatkan cewek. Kita memang homo homini lupus di satu pihak tapi makhluk sosial di pihak lain.”

Fira mengangguk setuju
“Tapi gua udah nggak tertarik sama suami orang.”
Aku hanya memandangnya dengan wajah bertanya.
“Perasaan memang bisa menghanyutkan tapi elu tau siapa yang hanyut? Mereka yang punya perasaan dan itu adalah perempuan. Gua. Lelaki tidak akan mau walaupun mereka bisa menyelamatkan kita. Mereka harus memilih, perempuan juga seperti itu. Masalahnya, perempuan sering tidak ambil peduli dengan pertimbangan buruk yang akan terjadi.”
“Perasaan yang mengacuhkan otak justru jadi jebakan.”

Fira biasanya tidak terbuka membicarakan pengalaman hidupnya. Jalan hidup kami berbeda tetapi aku masih bisa memahami apa yang dia rasakan.
“Cewek itu memang goblok. Gua percaya itu.”
Aku terkekeh dan masih menjadi pendengar yang baik.
“Yang punya kelainan seperti gua ada banyak, Ke. Mereka sudah tau konsekuensinya, mulai dari diputusin, dihina, didamprat, dituntut, disiksa bahkan dibunuh. Tapi kita nggak ambil peduli. Tutup mata, tutup telinga. Mirip kayak kuda.”

“Dan lu tau apa yang bikin gua marah?”
Aku mengangkat bahu.
“Hubungan gua dengan cowok adalah suka sama suka, tapi yang disalahkan, yang diteror selalu gua. Sudahlah. Masa lalu.”

Fira meneguk jus jeruk dan menyandarkan tubuhnya ke belakang.
“Melakukannya pasti lebih berat dari bicara. Elu sendiri bagaimana?”
Fira mengusap tengkuknya sambil menatap ke langit-langit. Beberapa detik kemudian wajahnya menjadi serius.
“Pasti sulit. Apalagi reputasi gua udah terkenal banget. Tapi kalo terus-terusan hanyut, lama-lama gua pasti tenggelam.”
“Apalagi elu nggak bisa berenang!”
“Nah, itu dia!” wajah Fira berpendar dan suasana mencair.
“Balik sekarang yuk!” aku melihat jam di pergelangan tangan dan meminta bon pada pelayan.
Kami berdua berdiri sebentar di sekitar meja untuk meninggalkan tips. Beberapa saat kemudian, Fira berbisik ke arahku.

“Ke, ada cowok ngeliatin elu.”
“Di mana? Dia ngeliatin pantat gua?” aku curiga.
“Eh, iya, Ke. Terang-terangan banget. Eh, orangnya ke sini!”
“Hah, kurang ajar. Di mana sih?” aku marah sambil mencari wajah yang dimaksud.
Sekejap saja seorang laki-laki dengan pakaian kerja berada di depan kami.
“Maaf ya, Mbak. Tadi saya lewat dan nggak sengaja liat Anda.”

Aku menatapnya curiga, tetapi….
“Kayaknya anda mirip teman SMP saya. Namanya Indeka tetapi dipanggil Keke.”
Wajahku yang menegang menjadi lebih santai.
“Ya, nama panggilan saya memang Keke. Kayaknya saya juga kenal kami tapi saya lupa.”
“Saya Indra, anak satu tiga, SMP 51. Lupa ya?”
“Oh, iya. Saya masih ingat, dulu ikut pramuka kan? Tapi kok kamu masih kenal saya sih?”
“Ah, wajah dan penampilan bisa berubah tapi ada satu yang sudah jadi ciri khas kamu.”
“Oh ya? Apa?”
“Pantat kamu.”
“Aaah!” aku dan Fira saling berpandangan.
– – -

 

10 thoughts on “Pantat Besar

  1. hahahahhahaaaa…….
    gUe bangEd!!
    aQ mang sDikIt nDut taPi kLiatan sangaT nDut gara2 pantat gUe.
    reSe’ bGd ya?!
    tEmen2 paDa njuLukin aQ cEwek sEmok.
    sEksi mOnTok.
    hhhaaaa

  2. hmmm, membaca blog ini membuat aq melihat diriku sendiri, namun bila di cerita ini adalah cewek, maka aq sendiri cowok,,, terus terang sampai saat ini aq masih merasa minder dengan keadaanku, kadang aq juga berfikiran untuk bagaimana caranya agar tidak terlihat atau disamarkan dengan memakan celana yang pas pinggang kebawah/model gombrang… tapi yah tetap saja saya yang sudah di dunia kerja rasanya tidak pantas memakai celana model seperti itu, tapi mau bagaimana lagi…
    apakah penulis bisa memberikan pencerahan ataupun tips yang positif dan beberapa cara untuk mengecilkannya…
    saya ingin sharing lebih banyak dengan penulis, mungkin bisa lewat email..
    terimakasih banyak atas tulisannya…

  3. hyaaa,,senasibb..
    badanku biasa aja,tapi pantat yang paling gedhe.
    jadinya kelihatan gendut…
    nyari celana susah,,mau pake rok ya malu.. :(
    mana paha juga gedhe banget pula.

    susah ya jadi cewek.. :(

  4. Pingback: 2010 in review « Soenting Melajoe

  5. kalo paha besar ya pantat ikut besar, tapi klo bisa ngecilin paha mungkin pantat ikutan kecil dikit ;p itu pikiran gw yah :)

  6. hmm crita ny aq bngt, hmm di kenal krna ciri khas pantat ny yg besar. bikin minder bngttt klo kmna^ psti pantat yg diliat. huh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s