Posted by: soentingmelajoe | November 21, 2009

Pengalaman Asia Source 3

Ada begitu banyak hal yang ingin saya tulis mengenai Asia Source ketiga yang diadakan di Silang, Filipina dua minggu lalu. Alasannya karena ada banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan itu. Salut kepada funder, organizer, dan seluruh pihak di balik acara Asia Source karena dapat mengorganisasi 150 peserta dari berbagai negara dan budaya dalam satu acara yang begitu padat.

Awalnya saya tidak tertarik mengikuti Asia Source camp. Saya terdorong mendaftar karena mendengar seorang teman sudah lebih dulu melakukan. Apa salahnya mencoba, jadi saya mintakan surat rekomendasi dari lembaga. Ternyata diterima, alhamdulillah. Sejak awal saya sudah tertarik dengan track 1 yang bertema managing your information. Must be interesting, begitu saya pikir.

Menjelang keberangkatan baru diberikan jadwal acara tapi tanpa informasi modul yang akan diberikan. Saya tidak sempat mencari lagi materi Asia Source II di internet karena pada waktu yang bersamaan mengurus workshop lembaga yang juga diadakan di Manila, Filipina. Jadi saya akhirnya menurunkan ekspetasi terhadap acara ini dengan harapan tidak terlalu menyesal nantinya. Pada akhirnya, ekspetasinya terlampaui karena ternyata kegiatan dan modulnya sangat menarik, memancing rasa ingin tahu, perdebatan, dan memancing kreativitas.

Seperti biasa, jalinan di otak saya berjalan agak lambat. Dengan banyaknya modul yang diberikan, saya lahap dulu semuanya. Sebagian saya kunyah, sebagian lagi masih mentah. Sekitar dua minggu setelah kegiatan itu, saya baru mulai mengunyah dan mencerna seluruh rangkaian kegiatan, diskusi, modul, filosofi, perasaan, gambar, dan informasi pasca kegiatan yang dengan cepat diupload ke website komunitas AS3. Belum lagi milis AS3 yang pasca acara begitu ramai dengan pertukaran informasi dan pengetahuan. Otak saya seperti jalan sempit yang begitu ramai dengan lalu lintas informasi sementara pada saat yang sama jalan itu juga dipakai untuk lalu lintas pekerjaan rutin di lembaga. Wow, tidak secepat itu untuk meng-upload seluruh makna kegiatan ke dalam otak dan hati saya.

Kesan saya terhadap Asia source 3 adalah kegiatan itu sebagai ajang mengenalkan, memancing, meletupkan, dan mengembangkan ide-ide tentang open source secara teknis. Hal itu karena sedikit modul yang membahas mengenai strategi penerapan dan penyesuaian aplikasi open source tersebut di komunitas lokal. Makanya sesi yang paling sukai adalah ketika menghadiri sesi malam dengan tema sharing pengalaman telecenter yang dilakukan oleh Kiran dari India dan Sabila Enun dari Bangladesh. Ternyata telecenter di kedua negara itu jauh lebih banyak dan tersebar cukup luas di pedesaan. Di Karnataka, perusahaan Kiran bahkan sudah mengoperasikan 800 telecenter. Jumlah yang fantastis. Di daerah lain di India, pihaknya akan mengembangkan sekitar 3.000 telecenter. Di Bangladesh jumlahnya juga ratusan.

Namun, yang menarik dari diskusi kami adalah penjelasan kedua orang itu mengenai konteks sosial politik di kedua negara yang unik yang melatarbelakangi program telecenter dan keberlanjutannya. Peserta diskusi tentang telecenter ini ada empat orang. Selain Kiran dan Sabila, ada saya dan Waladi. Ketertarikan Waladi karena lembaganya juga mengembangkan livelihood center di Aceh. Saya tertarik mengetahui strategi yang mereka pilih, latar belakangnya, dan respon dari masyarakat. Saya sedikit bercerita kepada mereka mengenai pengalaman saya ke beberapa telecenter di Jawa dan perkembangannya. Menarik untuk mengetahui rencana bisnis dari telecenter sehingga banyak yang dapat bertahan dan bisa dibilang sukses.

Saya juga tertarik tentang berbagai hal teknis dan aplikasi open source yang baru saya dengar. Saya merasa bahwa modul-modul AS3 telah membuka ruang dan kesempatan yang sangat mungkin dimanfaatkan dalam proses advokasi isu sosial di kelompok akar rumput. Pemanfaatan frontlineSMS di Filipina dalam menghubungkan buruh migran di luar negeri dengan pengacara atau lembaga bantuan hukum di dalam negeri sangat menarik. FrontlineSMS yang dikombinasikan dengan web dipakai oleh Refugee relief untuk menemukan dan menghubungkan pengungsi di wilayah konflik. Ikut didiskusikan juga mengenai isu etika dan keamanan data. Awesome!

I have to left it hang here because my firefox just hang and I need to connect myself again. Saya akan lanjutkan ceritanya.

Jakarta, 21 November 2009
SM

Older Posts »

Categories